Home Wajib Tahu Kuliner Kasih, Cara Baru Untuk Menebar Kasih

Kuliner Kasih, Cara Baru Untuk Menebar Kasih

2706
BAGIKAN

Berawal dari seorang teman yang membagikan status Facebook dengan username bernama Kuliner Kasih, Penulis kemudian membuka fan page tersebut lalu terhenyak, begitu banyak foto yang di upload di sana. Foto-foto yang jauh lebih menggetarkan hati daripada poto artis K-pop atau artis mancanegara lain yang sedang naik daun. Foto-Foto yang membuat merinding padahal bukan penampakan makhluk astral, melainkan foto para Lanjut Usia yang menghabiskan waktunya di jalanan demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tinggi.

Kuliner Kasih adalah sebuah wadah kepedulian yang fan page Facebooknya baru dibuat pada tanggal 27 Agustus 2015 dan saat ini sudah beranggotakan lebih dari 24.000 member dari Sabang sampai Merauke.

Tertarik untuk mewawancarai foundernya, berikut 10 (sepuluh) pertanyaan yang Penulis ajukan kepada salah satu admin Kuliner Kasih bernama Sari Dewi Wangsawijaya :

1. Tanya : Apa sih Kuliner Kasih itu?

Jawab : Kuliner Kasih adalah komunitas di sosial media yang memfokuskan membantu lansia (kategori 65 tahun ke atas) yang masih bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, baik dari segi pangan maupun usaha.

2. Berapa orang admin Kuliner Kasih? Apakah Dari Kota yang sama?

Jawab : Admin Kuliner Kasih terdiri dari 5 (lima) orang. Dari kota Tegal, Surabaya, dan Bondowoso. Setiap admin juga memiliki 2 asisten admin untuk membantu dalam pengoperasian grup.

3. Apa yang menjadi cikal bakal berdirinya Kuliner Kasih?

(Di sini Mbak Sari meng-capture post nya yang penulis rangkum sebagai berikut :

Jawab : 3 (tiga) bulan lalu karena merasa kasihan dengan postingan di salah satu grup kuliner mengenai seorang mbah yang menjual pangsit di jalan raya Surabaya pada siang hari, saya meminta tolong teman saya yang berdomisili di Surabaya untuk membeli pangsit tersebut kemudian menyumbangkannya ke sebuah panti, dari situlah muncul ide untuk membuat grup yang diberi nama Kuliner Kasih.

4. Kenapa mau repot untuk membantu para lansia di luar sana yang seharusnya itu menjadi urusan Pemerintah?

Jawab : Karena kita ingin secara pribadi membantu dan mengapresiasi semangat mereka dalam bekerja. Ada kepuasan sendiri kalau bisa menggapai mereka secara one on one supaya kita juga bisa belajar dari mereka tentang apa arti perjuangan sesungguhnya. Kita juga ingin mengajarkan member-member tentang welas asih dan mengajarkan generasi muda untuk mengikuti semangat kerja mereka. Karena mereka ini adalah contoh nyata bahwa usia lansia bukan alasan untuk berhenti bekerja. Meski usia 65 (enam puluh lima) tahun oleh pemerintah sebenarnya termasuk kategori pensiun.

5. Apa saja kendala selama menjalankan visi misi Kuliner Kasih?

Jawab : Banyak member yang terlalu terbawa perasaan untuk membantu tapi tidak mau menerima fakta bahwa target (red : lansia yang akan dibantu) itu ternyata mampu atau belum sesuai usia jompo (yaitu enam puluh lima tahun). Selain itu di lapangan banyak kasus di mana target belum mendapat Jamkesnas dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah setempat padahal target sangat bergantung pada hal semacam itu, dan kita tidak bisa memaksa pemerintah untuk melakukannya. Kebanyakan target tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya berhak mendapatkan itu semua. Kendala lain yaitu mendapatkan relawan yang betul-betul rela dan bersedia membantu target mengurus hak-haknya di lingkungan tempat tinggalnya.

6. Dari semua target yang masuk, berapa prosentase target yang sudah diberikan bantuan atau di cover?

Jawab : Dulu target yang masuk dan bisa di cover nyaris 90%, namun sekarang setelah diperketat seleksinya (berdasarkan legalitas, bukti lapangan dan info dari warga sekitar) kita bisa tekan hingga sekitar 60%.

7. Sebagai admin, apa sampai saat ini masih ‘mbrebes mili’ (meminjam istilah di fan page Facebook Kuliner Kasih) alias menangis melihat para lansia yang fotonya di upload oleh para member? Atau sudah kebal karena setiap saat melihat yang seperti itu?

Jawab : Semua admin sudah kebal dengan berbagai macam target. Karena kita sudah terlalu biasa melihat dan mempelajari kasus yang jumlahnya ratusan. Jadi bisa mengerti mana yang kondisinya lebih memprihatinkan dan kami sudah terlatih untuk tidak hanya melihat/mengasihani orang hanya dari penampakan luar/fisik. Perlu investigasi menyeluruh untuk benar-benar membuat kami terenyuh sekarang. Namun itu pun kami dipaksa harus berpikir dengan logika cara membantu yang benar agar kita tidak terbawa emosi dan memberikan bantuan yang salah. Kita lebih berpikir bagaimana mereka bisa mendapatkan hak-haknya. Memberikan pancing bukan hanya ikan.

8. Apa ada rencana untuk membuat Kuliner Kasih menjadi sebuah yayasan berpayung hukum?

Jawab : Iya akan menjadi yayasan dalam waktu dekat. Dan harus menjadi yayasan. Karena memang diperlukan untuk membuat gebrakan yang signifikan.

9. Pernah membayangkan kalau Kuliner Kasih akan mendapat respon yang sangat baik seperti sekarang ini?

Jawab : Sama sekali tidak.

10. Untuk membantu para lansia itu pasti perlu dana, kalau boleh tahu dari mana sih dananya? Apa ada iuran wajib bagi para member?

Jawab : Dana itu dari donatur-donatur yang percaya kepada kami. Awal fan page Kuliner Kasih dibuat sudah banyak yang berminat menjadi donatur dan meminta nomor rekening saya maka pada tanggal 31 Agustus 2015 saya membuka rekening khusus untuk Kuliner Kasih dan dana dari donatur ditransfer ke rekening tersebut, rekening yang bersifat sementara sampai Kuliner Kasih menjadi sebuah yayasan.

Demikian sepuluh pertanyaan yang penulis ajukan kepada Sari Dewi Wangsawijaya yang berdomisili di Tegal. Kini pertanyaan penulis ajukan kepada pembaca, ‘Apakah kalian berani bergabung dengan Kuliner Kasih dan menjadi bagian dari kepedulian yang terorganisir?’ karena sejatinya hidup di dunia ini bukan hanya untuk diri sendiri, ada hak orang lain dalam diri kita dan akan selalu ada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari bersama membangun kesejahteraan masyarakat Indonesia karena hal itu bukan hanya urusan pemerintah.

Ingatlah bahwa dengan memberi kita menjadi kaya tapi tidak perlu menunggu kaya untuk memberi.