Home Linux Inilah Alasan Mengapa Linus Torvalds Tidak Benar-Benar Peduli Tentang Open Source

Inilah Alasan Mengapa Linus Torvalds Tidak Benar-Benar Peduli Tentang Open Source

Open source adalah sarana untuk mengekspresikan diri, bukan code, menurut founder Linux

503
BAGIKAN

Dua puluh lima tahun setelah berdirinya, Linux tetap menjadi pilihan utama bagi pecinta open source. Namun ironisnya, Linux tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk menjadi open source, menurut sebuah wawancara media TED baru-baru ini Linus Torvalds mengungkap alasan tersebut.

Bagi mereka yang telah membayar, ini bukan berita utama. Torvalds tidak pernah bersikukuh tentang pendapatnya mengenai perangkat lunak atau open source benar-benar gratis meskipun semua lisensi open source, GNU general public license.

Tapi, alasan open source tidak benar-benar gratis bukan karena politik, melainkan tentang open source itu sendiri. Hal ini sebagai cara untuk mengundang pendapat orang lain tentang code yang dibuatnya. Itulah harapan Torvalds di masa mendatang.

Saya tidak membutuhkan teman, saya hanya butuh pendapat

Dalam wawancara TED baru-baru ini, Torvalds menyangkal tentang niatnya menjadikan linux sebagai bahan untuk berpolitik. Dalam menanggapi pertanyaan dari moderator Chris Anderson, Torvalds menjelaskan bahwa ia tidak mencari co-developers:

“Saya tidak memulai Linux sebagai proyek kolaborasi, saya memulainya karena keinginanku sendiri” kata Torvalds. “Saya membutuhkan hasil akhirnya tapi saya juga menyukai pemrograman. Saya membuatnya tersedia untuk umum tapi saya tidak punya niat untuk menggunakan metodologi open source”.

Bahkan, ditahun mendatang Torvalds menggunakan lisensi yang berbeda (seperti GPLv3) karena mereka berusaha untuk memaksa pengguna menggunakan code dengan cara sebijak-bijaknya. Torvalds juga menganggap dirinya tidak seperti orang lain (“Saya tidak benar-benar menyukai orang lain, tapi saya menyukai mereka yang terlibat dalam proyek saya”). Prinsip open source adalah “cara superior bekerja sama untuk menghasilkan code”.

Banyak orang-orang (atau perusahaan) yang tidak terlalu menyukai satu sama lain, atau bersaing satu sama lain, ia mengatakan kepada Anderson:

“Saya menyukai tentang open source karena hal itu benar-benar memungkinkan orang yang berbeda bekerja sama, kata Torvalds. “Kami tidak harus menyukai satu sama lain, dan kadang-kadang kita benar-benar tidak mengenal satu sama lain”.

Cukup Terbuka

Antara peluncuran Linux dan wawancara ini, Torvalds pernah mengalami masa pro-kontra Linux menjadi open source. Namun setelah kita renungkan sejenak, pendapat Torvalds memang benar bahwa tidak ada software yang diluncurkan secara gratis. Jika gratis, darimanakah pendapatan developernya? Darimana biaya pembuatannya? dan biaya lainnya.

Itu sebabnya, Amazon akan mendominasi dekade berikutnya mengenai komputasi enterprise. Menjual software yang menjadi hak milik, menjual dengan harga minimal dan hanya menggunakan kartu kredit. Itu cukup untuk menghasilkan $ 8 miliar pertahun dari bisnis tersebut.

Kembali ke Torvalds, ketika open source tidak benar-benar tentang open source. Itu tentang pendapat mengenai pekerjaannya. Selama membangun Linux, ia telah menyadari satu hal: “Saya tidak ingin membatasi apa yang orang lakukan dengan code saya, saya hanya ingin mereka lebih mengembangkannya. Tetapi, jika mereka melakukannya itu adalah yang bodoh, namun menjadi bodoh adalah pilihan mereka…”

Singkatnya, warisan terbaik Linus Torvalds telah mengajarkan kita untuk berbagi code.