Home Wajib Tahu Budaya Bertolak Belakang Dengan Idealisme (Pancasila)

Budaya Bertolak Belakang Dengan Idealisme (Pancasila)

1035
BAGIKAN

Bhineka Tunggal Ika…, teks yang tertera pada tali pita yang di genggam burung garuda. Itulah simbol republik Indonesia. Di sisi lain, mulai dari budaya dan adat bahkan agama masih banyak kontroversional yang menimbulkan asas bhineka tunggal ika itu semakin memudar, lantas apa yang menyebabkan asas itu terkikis dikit-demi sedikit? Tentu kita harus flashback pada sejarah atas perjuangan pahlawan-pahlawan bangsa ini.

Budaya Indonesia sangatlah banyak, bahkan beribu-ribu budaya yang kita miliki. Tapi kenapa budaya-budaya itu hampir punah di telan bumi. Tentu kita sadari bahwa Indonesia memiliki budaya yang sangat luar biasa, bahkan dikenal di seluruh dunia. Reok ponorogo-Ponorogo, Tari keccak-Bali, Ondel-ondel-Jakarta, Karapan sapi-Madura dan masih banyak lainnya yang belum kita ketahui. Kasus reok ponorogo yang hampir di klaim oleh negara Malaysia membuat para budayawan menjadi prihatin dengan kebijakan negara kita, sangat ironis bukan, bila budaya itu tidak di perjuangkan.

Agama pun tidak luput dari permasalahan, contoh kasus masyarakat yang menganut agama islam Ahmadiah membuat perpecahan agama islam kurang diterima masyarakat Indonesia. Lantas, apa yang membuat munculnya agama baru? Sampai-sampai penganut agama tersebut di asingkan dari wilayahnya dengan maksud agar tidak menjalar ke masyarakat sehat. HAM (Hak Asasi Manusia) menjadi landasan bagi penganut agama Ahmadiah. Simbol garuda sebagai acuan yaitu pancasila lebih tepatnya sila Kedua dan Kelima, “Kemanusiaan yang adil dan beradap serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Hal ini lah yang mengakibatkan idelalisme bangsa Indonesia menjadi sedikit rapuh, lantas apa yang harus bangsa ini perbuat?

Obama, presiden Negara power (Amerika Serikat) menuturkan bahwa “Indonesia memiliki simbol yaitu burung garuda”, ungkapnya. Hal inilah yang mendorong bangsa kita untuk terus memperjuangkannya. Maksud dari kasus-kasus yang telah terjadi adalah untuk membangun rasa nasionalisme pada jati diri masyarakat Indonesia mengingat hari ini 28 Oktober adalah hari “Sumpah Pemuda” oleh karnanya kita harus lebih mencintai bangsa Indonesia. Mari kita kembangkan negara republik Indonesia dengan menjunjung tinggi rasa nasionalisme dan simbol garuda pancasila.

Hari-Sumpah-Pemuda

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Credit: Moh. Iqbal

Editor: Luthfi Atma N